Taktik Pertamina Percepat Transisi dan Bisnis Rendah Karbon

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:38:44 WIB
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono. (Sumber Foto: NET)

BALI - Pertamina konsisten memperkuat upaya mendukung ketahanan serta transisi energi melalui dual growth strategy.

Pertama, Pertamina memaksimalkan bisnis warisan dengan mengoptimalkan nilai sektor hulu, meningkatkan fleksibilitas kilang, mentransformasi bisnis retail BBM, serta memperluas infrastruktur dan layanan. Kedua, membangun bisnis rendah karbon.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, saat diskusi panel 'Decarbonization: Global Technology Trends and Best Practices', Rabu (3/6). 

Sesi ini bagian dari 'World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific', forum regional transisi energi berkelanjutan dari World Bank Group.

Dalam pemaparan berjudul 'Accelerating Energy Transition Through Industrial Decarbonization and Low Carbon Business', Agung menjelaskan langkah transisi energi guna mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060. 

Pertamina memiliki visi menjaga keamanan energi nasional serta memacu transisi lewat program dekarbonisasi terintegrasi dan pengembangan bisnis rendah karbon, sesuai Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Agung, transisi energi di Indonesia wajib menyeimbangkan trilema energi: keamanan, keterjangkauan, dan keberlanjutan.

"Dan di situ saya yakin Pertamina menjadi sebuah contoh, karena di saat dunia ini menghadapi banyak ketidakpastian secara geopolitik, dengan adanya konflik di berbagai belahan dunia, kemudian juga ketidakpastian mengenai bagaimana penanganan climate change," ujar Agung.

Inisiatif dekarbonisasi Pertamina menjadi pembelajaran bagi peserta internasional. “Pertamina mendorong pemanfaatan geothermal (panas bumi) sebagai energi bersih serta pengurangan flaring. 

Pertamina juga mengembangkan energi baru dan terbarukan melalui bisnis rendah karbon, seperti biodiesel, bioethanol, kemudian juga rencana pengembangan CCS/CCUS (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage),” urai Agung.

Pada aspek dekarbonisasi, penggantian peralatan berbahan bakar fosil ke tenaga listrik menghasilkan efisiensi energi 1,52 MMtCO2e, menyumbang 66,86 persen total pengurangan emisi Pertamina. 

Sementara itu, untuk bisnis rendah karbon, inovasi biofuel menargetkan penjualan 60 juta kiloliter pada 2029 melalui Bio Refinery Cilacap.

Pertamina turut memaksimalkan potensi listrik panas bumi 1,4 GW di Hululais dan Lahendong. Proyek Geothermal Lahendong Unit 7 & 8 yang masuk Green Book Kementerian PPN/Bappenas diharapkan mempercepat pengembangan panas bumi dan memperkuat bauran energi bersih nasional.

Selain itu, Pertamina berkomitmen mengurangi emisi metana 40 persen dari basis 2021 melalui zero flaring dan Leak Detection & Repair Campaign (LDAR). 

Upaya ini sukses menurunkan emisi metana di lapangan PEP Donggi Matindok sebesar 68,4 persen, JOB Pertamina-Medco E&P Tomori 30 persen, dan PT Badak NGL 38,7 persen pada 2025.

Terkini