JAKARTA - Pertamina terus menunjukkan komitmennya dalam memelihara ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat peralihan ke energi bersih melalui serangkaian program dekarbonisasi terpadu serta ekspansi bisnis rendah karbon, Kamis, 4 Juni 2026.
Dedikasi tersebut disampaikan oleh Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, dalam diskusi panel bertajuk “Decarbonization: Global Technology Trends and Best Practices” pada rangkaian acara World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific di Bali, Rabu, 3 Juni 2026.
Forum ini menjadi wadah bagi pemangku kepentingan internasional untuk saling berbagi pengalaman serta strategi guna mengawal transisi energi berkelanjutan di kawasan Asia Timur dan Pasifik.
Dalam paparannya yang berjudul “Accelerating Energy Transition Through Industrial Decarbonization and Low Carbon Business”, Agung menjelaskan bahwa Pertamina menerapkan dual growth strategy guna mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Strategi pertama fokus pada optimalisasi bisnis eksisting dengan memperkuat sektor hulu, meningkatkan fleksibilitas kilang, transformasi ritel bahan bakar, serta memperluas infrastruktur energi. Strategi kedua adalah membangun fondasi bisnis rendah karbon untuk pertumbuhan masa depan.
Menurut Agung, langkah ini selaras dengan visi Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional serta mendukung agenda transisi energi yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Ia menegaskan bahwa transisi energi di Indonesia harus mampu menjawab tantangan energy trilemma, yaitu menyeimbangkan keamanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan lingkungan.
“Dan di situ saya yakin Pertamina menjadi sebuah contoh, karena di saat dunia ini menghadapi banyak ketidakpastian secara geopolitik, dengan adanya konflik di berbagai belahan dunia, kemudian juga ketidakpastian mengenai bagaimana penanganan climate change,” ujar Agung.
Terkait upaya dekarbonisasi, Pertamina terus memperluas pemanfaatan panas bumi dan menekan praktik flaring di sektor hulu migas, sembari mengembangkan bisnis energi baru dan terbarukan.
“Pertamina mendorong pemanfaatan geothermal sebagai energi bersih serta pengurangan flaring. Pertamina juga mengembangkan energi baru dan terbarukan melalui bisnis rendah karbon, seperti biodiesel, bioethanol, kemudian juga rencana pengembangan CCS/CCUS,” jelas Agung.
Pada aspek operasional, Pertamina melakukan peralihan dari peralatan berbahan bakar fosil ke berbasis listrik. Program ini menciptakan efisiensi energi sebesar 1,52 MMtCO2e atau berkontribusi sebesar 66,86 persen dari total upaya penurunan emisi perusahaan.
Di sektor bisnis rendah karbon, Pertamina fokus pada pengembangan biofuel. Perusahaan memproyeksikan penjualan biofuel mencapai 60 juta kiloliter pada 2029, dengan Bio Refinery Cilacap sebagai proyek utama.
Selain itu, potensi panas bumi sebesar 1,4 gigawatt terus dimaksimalkan melalui proyek di Hululais dan Lahendong, termasuk proyek strategis Geothermal Lahendong Unit 7 dan 8.
Proyek ini telah masuk ke dalam Green Book Kementerian PPN/Bappenas sehingga berpotensi memperoleh dukungan pendanaan internasional, termasuk dari World Bank.
Lebih lanjut, Pertamina menargetkan pemangkasan emisi metana sebesar 40 persen dari tingkat dasar 2021 melalui program zero flaring dan Leak Detection and Repair Campaign (LDAR). Inisiatif LDAR sukses menekan emisi metana tidak terkendali hingga 30–39,7 persen.
Capaian ini terlihat di berbagai wilayah operasi, seperti PEP Donggi Matindok yang mengurangi kebocoran hingga 68,4 persen, JOB Pertamina-Medco E&P Tomori sebesar 30 persen, dan PT Badak NGL sebesar 38,7 persen pada 2025.
Melalui langkah-langkah ini, Pertamina terus mengukuhkan perannya sebagai perusahaan energi nasional yang tidak hanya menjaga ketahanan energi, tetapi juga menjadi motor penggerak transisi ekonomi rendah karbon dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.