LABUAN BAJO – Kelangkaan minyak goreng mulai meresahkan masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tidak hanya ibu rumah tangga, para pedagang sembako di kawasan wisata super prioritas ini juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan komoditas pokok tersebut.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jumat (12/6/2026), kelangkaan paling parah terjadi pada minyak goreng kemasan 5 liter atau ukuran jeriken yang kini nyaris lenyap dari pasaran.
Seorang warga Labuan Bajo, Anisa, menceritakan pengalamannya harus berkeliling ke sejumlah tempat demi mendapatkan minyak goreng untuk kebutuhan dapur. "Saya semalam sempat keliling hampir empat toko untuk cari minyak goreng dan kosong. Akhirnya dapat di Toko Central Labuan Bajo, itu pun ukuran 750 mililiter.
Kalau yang kemasan jeriken sudah tidak ketemu," ujar Anisa, Jumat. Menurutnya, situasi ini sangat menyulitkan warga karena minyak goreng merupakan kebutuhan pokok harian.
Kondisi serupa dirasakan pedagang sembako di Pasar Wae Kesambi, Labuan Bajo. Salah satu pedagang, Linda Ogus, mengungkapkan bahwa distributor kini tidak lagi memasok minyak goreng ukuran besar.
"Paling langka minyak goreng 5 liter. Yang ada cuma minyak Dinora 1 liter, itu pun susah. Dapat minyak goreng saat ini susah. Teman pedagang saya beli di Ruteng. Kami dapat di dia harga Rp 130.000, jadi kami jual Rp 135.000. Pokoknya yang 5 liter itu sama sekali tidak ada," ungkap Linda.
Demi menjaga ketersediaan barang, para pedagang di Pasar Wae Kesambi menerapkan sistem saling bantu. Jika ada yang berhasil mendapatkan stok dari luar daerah, pasokan akan dibagi rata.
"Kami sudah tidak stok banyak. Kalau teman pedagang dapat tiga dus, kami beli satu dus. Jadi kami tetap beli walaupun sedikit karena masyarakat butuh, apalagi pelanggan lama saya biasanya dari kampung-kampung," tambahnya.
Sebelum krisis ini terjadi, Linda biasa membeli minyak goreng di toko grosir dengan harga Rp 16.000 hingga Rp 17.000 per liter. Kini, pedagang harus berupaya mencari barang hingga ke luar wilayah Labuan Bajo.
Pantauan di Pasar Wae Kesambi menunjukkan rak-rak kayu yang biasanya berisi jeriken minyak tampak kosong melongpong. Sebagian besar pedagang hanya menyediakan minyak kemasan kecil 250 hingga 500 mililiter, sementara etalase lainnya terlihat bersih tanpa dagangan akibat minimnya pasokan dari hulu.